Jumat, 06 April 2012

Pengertian Atelektasis Paru

Atelektasis sebenarnya bukan merupakan suatu jenis penyakit melainkan suatu keadaan yang berhubungan dengan adanya proses penyakit parenkim paru. Atelektasis sering dikaitkan dengan teriadinya kolaps alveolus, lobus, atau unit paru yang lebih besar. Atelektasis mungkin disebabkan oleh obstruksi bronkhus. Obstruksi tersebut mengganggu jalannya udara dari dan ke alveoli yang normalnya menerima udara melalui bronkhus. Udara alveolar yang terperangkap terserap kembali ke pembuluh darah tetapi udara luar tidak dapat menggantikan udara yang diserap karena obstruksi. Akibatnya, bagian paru yang terisolasi mengalami kekurangan udara dan ukurannya menyusut. Hal ini menyebabkan bagian paru lainnya (sisanya) mengembang secara berlebihan. Secara istilah pengertian atelektasis adalah kolaps alveoli.

Patofisiologi
Obstruksi bronkhial karena adanya benda asing atau sumbatan eksudat kental yang mengganggu saluran pernapasan dan menghambat udara masuk ke zona alveolus dapat menyebabkan atelektasis. Udara yang berada dalam alveolus menjadi sulit untuk keluar dari alveolus dan akan terabsorpsi sedikit demi sedikit ke aliran darah yang menyebabkan alveolus kolaps (untuk mengembangkan alveolus yang kolaps total diperlukan tekanan udara yang lebih besar seperti halnya seseorang harus meniup balon lebih keras pada waktu mulai mengembangkan balon).

Mekanisme ini dikenal dengan atelektasis absorpsi dan dapat disebabkan oleh obstruksi bronkhus intrinsik atau ekstrinsik. Obstruksi bronkhus intrinsik paling sering disebabkan oleh sekret atau eksudat yang tertahan sedangkan obstruksi ekstrinsik pada bronkhus biasanya disebabkan oleh neoplasma, pembesaran kelenjar getah bening, aneurisma, atau jaringan parut paru akibat dari hiperkavitas dari proses tuberkulosis paru.

Risiko atelektasis meningkat pada klien dengan penurunan mekanis ketika melakukan ventilasi seperti saat klien yang harus melakukan posisi supinasi, membebat dada karena nyeri, depresi pernapasan akibat opioid, sedatif, retakan otot, dan distensi abdomen.

Atelektasis juga dapat terjadi akibat tekanan pada jaringan paru yang menghambat ekspansi normal paru pada saat inspirasi. Mekanisme ini disebut dengan atelektasis tekanan. Proses tekanan tersebut dapat diakibatkan oleh adanya penumpukan cairan di dalam thoraks (efusi pleura), udara di dalam rongga pleura (pneumothoraks), pembesaran jantung, distensi perikardium oleh cairan (efttsi perikardial), pertumbuhan tumor di dalam thoraks, atau kenaikan diafragma ke arah atas akibat adanya tekanan abdominal yang dialami klien. Atelektasis yang disebabkan oleh tekanan sering ditemukan pada klien dengan efusi pleura akibat gagal jantung atau infeksi pleura. Atelektasis juga sering menjadi salah satu tanda utama tumor bronkhi.

Pengkajian fisik
Pemeriksaan inspeksi pada klien dengan atelektasis akan terlihat adanya peningkatan frekuensi pernapasan, pergerakan napas dari sisi paru yang sakit sedikit tertinggal dari sisi paru yang sehat. Pada palpasi ditemukan adanya ruang antar-iga yang menyempit dan cekung pada sisi sakit akibat kolapsnya alveoli, pada trakhea ditemukan adanya deviasi ke arah sisi paru yang mengalami atelektasis. Pemeriksaan taktil fremitus berkurang sampai menghilang sesuai banyaknya lobos yang mengalami atelektasis. Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi paru yang sakit.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis pada atelektasis dengan penyebab TB paru sering ditemukan adanya infiltrat khas TB paru dan gambaran adanya atelektasis paru.

Tindakan Pencegahan
Perawat perlu mengenal tindakan pencegahan atelektasis dalam praktik klinik keperawatan sehari-hari agar dapat mencegah klien yang berisiko mengalami atelektasis lebih lanjut. Keterampilan ini penting, mengingat besarnya peran perawat dibanding tim kesehatan Iainnya dalam mencegah terjadinya atelektasis pada klien yang berisiko tinggi.

Rencana intervensi keperawatan disesuaikan dengan memahami mekanisme pertahanan paru dalam mencegah terjadinya atelektasis.

Infeksi Pada parenkim paru
Peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi disebut pneumonia atau pneumonitis. Istilah pneumonia lebih sering digunakan untuk infeksi paru ini karena pneumonitis sering kali digunakan untuk menyatakan peradangan paru nonspesifik yang etiologinya tidak diketahui.

Fibrosis paru
Fibrosis paru bukanlah nama suatu penyakit melainkan istilah patologi yang menyatakan adanya jaringan pengikat dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat perbaikan jaringan sebagai mekanisme lanjutan pada penyakit paru yang menimbulkan peradangan atau nekrosis. jenis fibrosis paru yang paling sering ditemukan adalah fibrosis lokal pada parenkim paru akibat keadaan yang disebabkan oleh tuberkulosis, abses paru, bronkhiektasis atau pneumonia yang tidak teratasi. Kadang-kadang fibrosis paru dapat secara difus menyerang parenkim paru, terutama pada septum interalveolar. Tidak seperti pada fibrosis lokal, fibrosis paru difus merupakan kelainan yang menyebabkan kecacatan dan sering kali fatal. Terjadinya fibrosis paru difus menunjukkan stadium akhir penyakit paru, baik yang sebabnya diketahui maupun yang belum diketahui (Snteltzcr dan Bare, 2002).

Pneumokoniosis
Pneumokoniosis adalah sekelompok penyakit yang disebabkan karena inhalasi debu anorganik dan organik tertentu. Beberapa jenis debu jika terinhalasi dalam kadar yang cukup banyak ke dalam paru akan menimbulkan reaksi fibrosis, sedangkan debu lainnya tidak mempunyai pengaruh apa-apa. Partikel debu dapat menimbulkan penyakit atau tidak bergantung pada:

- Ukuran partikel. Ukuran partikel 1-5 pm adalah yang paling berbahaya karena partikel yang lebih besar dari itu tidak akan dapat mencapai alveolus.

- Kadar dan lamanya paparan. Biasanya diperlukan kadar yang tinggi untuk dapat mengalahkan kerja eskalator silia dengan waktu paparan yang lama (contoh: pneumokoniosis pekerja tambang atau penyakit paru hitam, biasanya membutuhkan waktu paparan selama 20 tahun sebelum terjadi fibrosis paru yang luas).

- Sifat debu. Bahan-bahan tertentu terutama debu organik seperti serat kapas dapat menimbulkan bisinosis; debu (bagasosis); dan jerami yang berjamur (farmer slung) mempunyai efek antigenik yang tak lazim dan menyebabkan alveolitis alergika. Sifat kimia debu anorganik juga berpengaruh dalam kapasitasnya menimbulkan penyakit. Debu silika biasanya diinhalasi oleh penggiling, pembersih debu, dan pekerja tambang batu karang—sangat berbahaya karena menyebabkan silikosis. Partikel-partikel ini diduga secara teratur merusak makrofag yang memfagpsitosis debu-debu tersebut dan mengakibatkan pembentukan nodula fibrotik. Fibrosis yang luas timbul akibat penyatuan nodula-nodula fibrotik.