Selasa, 10 April 2012

Kelainan Pada Alat Reproduksi

Kelainan Dan Penyakit Alat Kandungan
Terdapat beberapa kelainan dan penyakit alat kandungan yang dapat mempengaruhi kehamilan dan persalinan. Dengan makin meningkatnya derajat kesehatan masyarakat, kelainan dan penyakit alat kandungan semakin berkurang. Di antara kelainan dan penyakit alat kandungan yang perlu diketahui oleh bidan dalam menjalankan tugas di tengah masyarakat adalah septum vagina, varises, hematoma, fistula, kista vagina, anteversio uteri, retrofleksio uteri, dan kehamilan yang disertai kista ovarium.

- Septum vagina.
Kelainan bawaan ini jarang dijumpai. Septum vagina dapat dalam bentuk septum yang longitudinal atau vertikal. Septum longitudinal dapat terjadi sepanjang vagina (vagina dupleks) sehingga dapat menghalangi jalannya persalinan. Dalam keadaan demikian tindakan persalinan dengan operasi merupakan pilihan utama. Septum vagina dapat pula terjadi parsial yang tidak menghalangi jalannya persalinan dan pada saatnya septum tersebut dapat digunting sehingga persalinan berjalan normal. Septum vagina yang vertikal dapat menghalangi penurunan kepala dan kesulitan menilai pembukaan. Bila kepala sudah turun mencapai Hodge III, septum vertikal dapat digunting sehingga persalinan berlangsung dengan aman.

Bagaimana sikap bidan dalam menghadapi kelainan bawaan yang disertai kehamilan? Bagi bidan yang utama adalah menegakkan kemungkinan septum vagina, vertikal atau longitudinal pada waktu melakukan pemeriksaan dalam dan selanjutnya merujuk penderita untuk mendapatkan pertolongan persalinan sebagaimana mestinya.

- Varises.
Wanita hamil sering mengeluh tentang pelebaran pembuluh darah, yang terjadi pada tungkai, vagina, vulva, dan terjadi wasir. Selain kelihatan kurang baik, pelebaran pembuluh darah ini dapat merupakan sumber perdarahan potensial pada waktu hamil maupun saat persalinan. Kejadian varises ini makin meningkat pada kehamilan makin tinggi dan segera akan menghilang atau berkurang setelah persalinan. Penyebab varises adalah karena faktor heriditer dan dirangsang oleh. meningkatnya hormon estrogen dan progesteron atau faktor lainnya.

Varises yang terdapat di tungkai dapat diatasi dengan cara tidak terlalu banyak berdiri, saat tidur kaki ditinggikan atau memakai stoking. Varises yang pecah pada waktu hamil dapat diatasi dengan cara menjahit kembali sehingga perdarahan berhenti. Kesulitan yang mungkin dijumpai adalah saat persalinan dengan varises vilva yang besar sehingga saat episiotomi dapat terjadi perdarahan.

Dengan beberapa pertimbangan pada kasus dengan varises vagina dan vulva yang besar dapat dianjurkan persalinan dengan seksio sesarea. Wanita hamil dengan keluhan wasir untuk sementara diatasi dengan pengobatan sampai persalinan berlangsung. Setelah persalinan berakhir, keluhan wasir berkurang sampai menghilang dan tidak memerlukan tindakan lain.

- Hematoma.
Pecahnya pembuluh darah vena yang menyebabkan perdarahan dapat terjadi pada saat kehamilan berlangsung atau yang lebih sering pada saat persalinan. Hematoma vulva dan vagina dapat besar, disertai bekuan darah bahkan perdarahan yang masih aktif. Hematoma yang besar harus dilakukan eksisi untuk mengeluarkan bekuan darah dan mengikat pembuluh darah yang pecah.

Hematoma yang terjadi pada pertolongan persalinan saat ini sudah jarang terjadi apalagi kehamilan grandemultipara sangat berkurang. Bidan yang dalam pertolongan persalinan menghadapi hematoma sebaiknya mengirimkan penderita ke tempat yang dapat memberikan pertolongan yang adekuat.

- Fistula rekto-vaginal atau vesiko-vaginal dan utero-vaginal.
Kejadian fistula ini sudah jarang dijumpai karena persalinan kasep yang makin jarang terjadi. Fistula terjadi karena tekanan langsung jaringan lunak antara kepala janin yang telah berada di dasar panggul dengan jalan lahir tulang. Oleh karena itu, setelah melakukan pertolongan persalinan kasep perlu dilakukan eksplorasi untuk mencari kemungkinan robekan jalan lahir yang dapat menjadi fistula.

Untuk menghindari terjadinya fistula postpartum, selalu dipasang dauer kateter sehingga vaskularisasi jaringan yang tertekan membaik dan terhindar dari nekrosis dan fistula. Operasi rekonstruksi fistula sulit dan keberhasilannya belum memuaskan. Untuk mengurangi kejadian fistula maka persalinan harus telah dirujuk pada saat mencapai garis waspada, sehingga dapat dilakukan tindakan tepat dan cepat untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas.

Pada kasus ibu hamil yang telah pernah menjalani operasi rekonstruksi fistula, persalinan selalu dilakukan dengan tindakan operasi seksio sesarea.

- Kista vagina.
Kista vagina sebagian besar dijumpai secara kebetulan. Kista vagina berasal dari sisa duktus Gartner atau duktus Muller. Pada kista vagina yang tidak terlalu besar tidak memerlukan pengobatan dan dapat dibiarkan serta tidak akan mengganggu kehidupan rumah tangga. Bila pada saat persalinan terjadi gangguan penurunan bagian terendah karena kista vagina, kista tersebut dapat dipungsi sehingga cairannya keluar dan selanjutnya memperlancar proses persalinannya.

- Anteversio uteri.
Sebagian besar kedudukan uterus adalah anteversio dan antefleksio. Anteversio uteri artinya kedudukan uterus secara menyeluruh jatuh ke depan dari sumbu badan, sedangkan antefleksio uteri adalah sudut ke arah dengan dari rahim dalam hubungannya dengan serviks uteri.

Dalam perjalanan keseluruhan tidak akan terjadi gangguan apapun dengan semakin besarnya pertumbuhan rahim dengan makin tuanya hamil. Kejadian an-teversio uteri gravidi dijumpai pada kehamilan grandemultipara karena lemahnya dinding otot perut atau pada primigravidi dijumpai pada kemungkinan kesempitan pintu atas panggul.

Pada saat inpartu dengan anieversio uteri gravidi dapat dijumpai kelambatan pembukaan karena arah kekuatan his tidak tertuju pada kanalis servikalis. Untuk dapat mengatasi keadaan tersebut ibu hamil inpartu diminta untuk tidur terlentang selama persalinan, sehingga kekuatan his dan mengejan dapat diarahkan menuju jalan lahir.

- Retrofleksio uteri gravidi.
Kehamilan pada retrofleksio uteri tidak banyak dijumpai karena kemampuan mobilisasi uterus selama hamil dan melepaskan diri dari ruangan pelvis minor. Bahaya retrofleksio uteri gravidi adalah dapat terjadi uterus gravidus inkarserata, sehingga tertinggal dipelvis minor yang menyebabkan abortus, kematian hasil konsepsi dalam rahim.

Salah satu penanganan yang masih dianjurkan adalah melakukan tidur dengan kedudukan dada-kaki beberapa waktu dengan harapan agar retrofleksio uteri gravidi dapat lepas dari ruangan pelvis minor. Di samping itu dapat pula dilepaskan dengan kedudukan tidur dada-kaki dan mendorong uterus gravidus keluar dari ruangan pelvis minor.

- Kehamilan disertai kista ovarium.
Kehamilan dengan kista ovarium jarang dijumpai. Pada kehamilan yang disertai kistoma ovarii seolah-olah terjadi perebutan ruangan, dimana kehamilan makin membesar. Oleh karena itu, kehamilan dengan kista dilakukan operasi untuk mengangkat kista tersebut pada umur hamil 16 minggu.

Bahaya melangsungkan kehamilan bersamaan dengan kista ovarii adalah dapat terjadi gangguan pertumbuhan janin yang akhirnya mengakibatkan abortus, kematian dalam rahim.

Pada kedudukan kista dipelvis minor, persalinan dapat terganggu dan memerlukan penyelesaian dengan jalan operasi seksio sesarea. Pada kedudukan kista ovarii di daerah fundus uteri, persalinan dapat berlangsung normal, tetapi bahaya postpartum mungkin terjadi torsi kista, infeksi sampai abses. Oleh karena itu, segera setelah persalinan normal bila diketahui terdapat kelainan kista ovarii dilakukan laparotomi untuk mengangkat kista tersebut.