Kamis, 23 Februari 2012

Pengertian Mola Hidatidosa

Pengertian

Mola Hidatidosa ialah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma villus korialis langka vaskularisasi dan edematus.


2. Patofisiologis
Pada molahidatinosa tidak terjadi deperensiasi tetapi hanya froliferasi sehingga pertumbuhan tidak terkendali pada sel-sel tropoblas yang mana vaskularisasi tidak mencukupi sehingga bagian pinggir akan nekrosis dan keluar menimbulkan gelembung mola (fluksus) yang akhirnya akan mengalami mola abortion.


1. Diagnosis :
Kehamilan mola hidatidosa akan didapatkan gambaran/tanda :

- Seperti keluhan kehamilan muda

- Dengan perubahan secara cepat menyebabkan TFU (tinggi Fundus uteri) lebih besar dari pada usia kehamilan dari pada umumnya. Sehingga pada keadaan ini harus dibedakan dari pada kehamilan gemmelli.

2. Therapi

- Evakuasi, dengan persiapan khusus

 Cairan /darah

 Upaya dilatasi tujuan utama bila osteum uteri belum terbuka ( amnion 10 – 12 jam)

 Drip oxcitosin untuk menambah kontraksi, ekspulsi, menurunkan perdarahan, mencegah perforasi kebelakang

- Terapi supportif (antibiotika, transfusi, dll)

- Monitor kadar HCG sampai 1 bulan :

- Apakah ada mola

- Apakah ada tanda-tanda keganasan /Chorio Ca.

Curret bisa menyebabka robeknya mukosa endometrium sehingga bila diberikan oksitoxin maka endometrium akan menebal.

Predisposisi terjadinya Molahidatinosa :

1. Kekurangan vitamin B 12

2. Imunologi

3. Gizi terganggu

I. PENGKAJIAN

A. AKTIVITAS

 Kelemahan.

 Kesulitan ambulasi.

B. SIRKULASI

 Takikardia, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok).

 Edema jaringan.


C. ELIMINASI

 Ketidakmampuan defekasi dan flatus.

 Diare (kadang-kadang).

 Cegukan; distensi abdomen; aabdomen diam.

 Penurunan haluan urine, warna gelap.

 Penurunan/tak ada bising usus (ileus); bunyi keras hilang timbul, bising usus kasar (obstruksi); kekakuan abdomen, nyeri tekan. Hiperesonan/timpani (ileus); hilang suara pekak diatas hati (udara bebas dalam abdomen).


D. CAIRAN

 Anoreksia, mual/muntah; haus.

 Muntah proyektil.

 Membran mukosa kering, lidah bengkak, turgor kulit buruk.


E. KENYAMANAN/NYERI

 Nyeri abdomen, Distensi, kaku, nyeri tekan.

F. PERNAPASAN

 Pernapasan dangkal, takipnea.

G. KEAMANAN

 Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis); infeksi pasca-melahirkan, abses retroperitoneal.


H. PENYULUHAN/PENBELAJARAN

 Riwayat adanya trauma penetrasi abdomen, contoh luka tembak/tusuk atau trauma tumpul pada abdomen; perforasi kandung kemih/ruptur; penyakit saluran GI contoh apendisitis dengan perforasi, ganger/ruptur kandung empedu, perforasi karsinoma gaster/ulkus duodenal, obstruksi gang renosa usus, perforasi divertikulum, ileitis regional, hernia strangulasi.

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi terhadap devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan.

2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder.

3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Penurunan komponen seluler yang di butuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.

4. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.

5. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri.

6. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.


III. RENCANA INTERVENSI

INTERVENSI KEPERAWATAN :

1. Resiko tinggi terhadap devisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan

Tujuan :

Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.

Intervensi :

a. Kaji kondisi status hemodinamika

Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi

b. Ukur pengeluaran harian

Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal

c. Catat haluaran dan pemasukan

Rasional : Mengetahuai penurunanan sirkulasi terhadap destruksi sel darah merah.

d. Observasi Nadi dan Tensi

Rasional : Mengetahui tanda hipovolume (perdarahan).

e. Berikan diet halus

Rasional : Memudahkan penyerapan diet

f. Nilai hasil lab. HB/HT

Rasional : Menghindari perdarahan spontan karena proliferasi sel darah merah.

g. Berikan sejumlah cairan IV sesuai indikasi

Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan masif

h. Evaluasi status hemodinamika

Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik.


2. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder.

Tujuan :

Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan

Intervensi :

a. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi

b. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan

Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar

c. Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart

Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart

d. Lakukan perawatan vulva

Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.

e. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda infeksi

Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi

f. Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan

Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

g. Batasi pengunjung dan ajari pengunjung untuk mencuci tangan yang baik.

Rasional : Mencegah cross infeksi.

h. Observasi suhu tubuh.

Rasional : Mengetahui infeksi lanjut.

i. Nilai hasil lab. Leukosit,darah lengkap.

Rasional : Penurunan sel darah putih akibat dari proses penyakit

j. Berikan obat sesuai terapi.

Rasional : Antibiotika profilaktik atau pengobatan.


3. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan Penurunan komponen seluler yang di butuhkan untuk pengiriman oksigen/nutrien ke sel.

Tujuan :

Tidak terjadi Perubahan perfusi jaringan selama perawatan perdarahan

Intervensi :

a. Kaji tanda vital, warna kulit, ujung jari

Rasional : Memberikan informasi mengenai perfusi

b. Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh.

Rasional : Memperlancar vaskularisasi kejaringan perifer.

c. Nilai hasil lab.HB/HT dan jumlah SDM GDA.

Rasional : Mengidentifikasi/memperbaiki defisiensi untuk menurunkan resiko perdarahan.

d. Berikan sel darah merah seuai program terapi.

Rasional : Memaksimalkan transportasi oksigen kejaringan.


4. Gangguan Aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi

Tujuan :

Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi

Intervensi :

a. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas

Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk mencegah kondisi klien lebih buruk

b. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan

Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi

c. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari

Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal

d. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien

Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada Mola Hidatidosa, istirahat mutlak sangat diperlukan

e. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas

Rasional : Menilai kondisi umum klien

5. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan intrauteri

Tujuan :

Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami

Intervensi :

a. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien

Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun diskripsi.

b. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya

Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri

c. Kolaborasi pemberian analgetika

Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik


6. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan

Tujuan :

Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat

Intervensi :

a. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit.

Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas.

b. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien.

Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit.

c. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan.

Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien.

d. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama.

Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan.

e. Terangkan hal-hal seputar Mola Hidatidosa yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga.

Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.


Daftar Pustaka

Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad. (1981). Obstetri Patologi, Elstar Offset, Bandung.

JNPKKR-POGI. (2000). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Marilynn E.Doenges. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.

Rustam Mochtar. (1992). Sinopsis Obstetri Jilid I, EGC, Jakarta.

Sarwono Prawirohardjo. (1999). Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.

Wong,Dona L& Perry, Shanon W. (1998). Maternal Child Nursing Care, Mosby Year Book Co., Philadelphia.

. Protap Pelayanan Kebidanan RSUD Dr. Sutomo Surabaya, Surabaya